Analisis Sempit Film Jamila dan Sang Presiden Perspektif Sosiologi

  • 0

Analisis Sempit Film Jamila dan Sang Presiden Perspektif Sosiologi

Category : Tulisan

“Seorang perempuan bernama Jamila (Atiqah Hasiholan) tiba-tiba menjadi headline di semua pemberitaan nasional. Ia mengaku membunuh seorang pejabat tinggi negeri dan menolak mengajukan pengampunan hukuman mati dari Presiden

Jamila dimasukkan dalam penjara yang dipimpin oleh seorang sipir perempuan yang sangat ditakuti, Ibu Ria (Christine Hakim). Di penjara inilah cerita Jamila bergulir, membuka sebuah luka bernama perdagangan manusia yang dialami oleh Jamila dan jutaan anak di Indonesia. Selama ini Jamila mencari adiknya yang terjerat dalam sindikat prostitusi anak, yang akhirnya mengantar Jamila ke penjara

Persidangan Jamila menjadi panas dan semakin kontroversial dengan kemunculan kepala golongan fanatik (Fauzi Badilah) yang mati-matian menentang pengampunan dari Presiden. Konflik di dalam penjara dengan Ibu Ria makin meruncing, sementara tekanan dari luar juga menjadi tidak tertahankan. Jamila semakin terpuruk, hukuman matinya semakin dekat”

Dari sinopsis singkat di atas dapat kita garis bawahi, bahwa film ini menceritakan tentang perjalanan hidup seorang perempuan korban Human Trafficking. Apabila kita cermati lebih lanjut dalam film ini menunjukan realitas sosial yang dilematis, yakni ketika masyarakat  berorientasi bahwa ‘No Money, No Life’ salah satu bagian dalam film ini menceritakan Jamila dijual oleh ayahnya ke seorang mucikari pada usia belia, inilah yang menunjukan betapa kejinya kemiskinan apabila dibarengi orientasi ‘No Money, No Life’. Ketika beranjak dewasa Jamila pergi ke kota untuk menemui saudaranya dengan harapan dapat hidup lebih layak, tapi semua itu hanyalah sekadar antara realita dan harapan, Jamila mendapatkan pelecehan seksual dan perlakuan tidak baik oleh keluarga Wardiman.

Secara sosiologis peristiwa – peristiwa dalam film ini menunjukan pola hubungan yang begitu resiprokal, yakni dalam konteks film ini persoalan apapun itu harus ada timbal balik, ‘tidak ada yang gratis di dunia ini’ dapat kita lihat dalam bagian ketika Jamila menumpang di keluarga Wardiman namun ia diperlakukan tidak senonoh, perlakuan tersebut mungkin tidak manusiawi tapi itulah hubungan resiprokal yang terjadi antara Jamila dan keluarga Wardiman walaupun ia sangat dirugikan disini.

Adapun dalam film ini dapat kita lihat kekuatan pengaruh lingkungan slum yang dapat merubah sikap dan perilaku seseorang, yakni konformitas hal ini terurai ketika Jamila mulai masuk lingkungan lokalisasi, setelah ia menyelamatkan diri atas percobaan pemerkosaan oleh preman pasar terhadap dirinya, lingkungan dan kondisi memaksa Jamila berkonformitas dengan pengaruh sosial di sekitarnya sehingga ia terlibat menjadi seorang pekerja seks komersial.

Interaksi dalam konsep sosiologi politik secara praktis yaitu proses saling mempengaruhi, saling menguasai, sehingga ada pihak yang terpengaruhi dan terkuasai, pihak fanatik yang menentang adanya ampunan untuk Jamila karena dianggap telah melakukan perbuatan yang sangat berat, para pihak fanatik ini terus gencar melakukan propaganda agar pengadilan menghukum mati Jamila atas perbuatannya. Usaha propaganda tersebutlah yang dapat dinamakan interaksi dalam konsep sosiologi secara praktis, sekalipun hal itu dilakukan untuk hal yang keji.

Propaganda yang terjadi pada film itu terjadi juga melalui media massa, walau memang peran media massa ini tidak seberapa disoroti dalam film ini, namun apabila kita tarik pada realitas sosial bahwa media massa memiliki andil yang kuat dalam mengkonstruksi opini massa, dan massa cenderung terkonstruksi, karena memang media massa ini hanya memiliki satu arah dalam komunikasi dan massa hanya dapat menerima  sekalipun biasanya ada telepon interaktif, namum hal itu tidak begitu kuat andilnya terlebih lagi telepon interaktif  cenderung seperti skenario media massa saja.

Pada bagian menjelang akhir film dikisahkan massa yang fanatik mengalami keos dan bentrok dengan aparat hukum, hal ini mungkin sejalan dengan pernyataan bahwa seseorang dalam jumlah massa cenderung akan mempertahankan diri, namun biasanya self defense ini acap kali menyesuaikan keadaan massa tersebut sekalipun tindakan massa tersebut tergolong anarki, ketika dalam keadaan tertentu yakni’keterpaksaan’ tak menindas maka tertindas.

Dari keseluruhan film ini dapat diambil simpulan secara sosiologis betapa kuat peran interaksi baik itu yang sifatnya resiprokal, propaganda, komunikasi ‘mata satu’ dan konstruksi lingkungan terhadap individu manusia maupun kelompok manusia. Satu hal yang menjadi benang merah dan pesan moral yang disampaikan “Uang dan kemiskinan adalah teman akrab ; akrab dengan kehancuran, tanpa adanya iman”

Sumber Gambar : https://galisinema.files.wordpress.com/2013/04/jamila_presiden.jpg

 


Leave a Reply