Arisan Brondong Cap Ampera

  • 0

Arisan Brondong Cap Ampera

Category : Tulisan

Masalah istilah atau kata tersebutlah yang akrab menemani kehidupan manusia, tiada manusia yang tak punya masalah baik itu kehidupan pribadi, keluarga, maupun di masyarakat. Setiap masalah memang ada kadarnya, ada yang ringan, sedang, ada pula yang serius, dan tidak semua masalah itu adalah penyimpangan, misalnya seseorang mengalami kanker otak dikarenakan ada tumor di kepalanya, tumor tersebut adalah masalah bagi penderita dan tentu itu bukan penyimpangan.
Akhir – akhir ini kita tengah dikejutkan dengan fenomena arisan brondong dari kota metropolis Palembang (lihat berita online : ww.tribunnews.com/regional/2014/08/19/seorang-brondong-bisa-kantongi-rp-5-juta-sekali-kencan), ketika mendengar fenomena tersebut pasti kita harus sepakat itu adalah penyimpangan, karena memang hal tersebut sudah melanggar nilai, moral, dan norma yang berlaku di masyarakat.

Lantas  mengapa kita harus sepakat fenomena tersebut adalah penyimpangan dan apa sebenaranya latar belakang adanya arisan brondong itu sendiri ? Arisan brondong adalah sebuah arisan dimana yang laki – laki muda yang tampan dan menawan menjadi barang atau hadiah dari arisan tersebut, mereka yang menjadi hadiah biasanya anak kuliahan atau laki – laki muda yang berpenampilan menarik, badan atletis, nyentrik dan yang pasti “masih jreng”, mereka dipilih lantaran para pelaku arisan brondong mengutamakan gengsi antar sesama pelaku dan kepuasaan birahi  semata. “Mereka rata – rata sudah berkepala empat” begitu ironis ternyata para pelaku arisan ini adalah perempuan yang sudah berkepala empat dan banyak di antaranya mereka yang masih terikat pernikahan. Terang saja mengapa kita harus sepakat bahwa fenomena ini adalah penyimpangan karena memang mereka sudah berani mencederai arti kesaklaran dari pernikahan oleh sebuah perzinaan artinya hal ini dilatarbelakangi oleh sebuah ketidakpuasan batin dalam konteks ini hubungan suami istri. Perbuatan ini sudah sangat jauh dari batas kewajaran, baik dalam agama maupun masyarakat hal ini tentu tidak dibenarkan.

Dimanakah biasanya mereka melakukan arisan brondong ? apakah hanya motif ketidakpuasan batin saja yang melatar belakangi mereka melakukan perbuatan tersebut ? mereka melakukan transaksi arisan ini tidak sembarangan biasanya mereka memilih rumah mewah, tempat karaoke, dan diskotik  dengan kelas VIP, tempat – tempat tersebut dipilih karena mereka butuh tempat tertutup dan memang merekapun mempunyai komunitas yang cenderung eksklusif. Pelaku yang terlibat di dalam perbuatan ini bukan hanya tante – tante dan brondong melainkan melibatkan pihak ketiga, yaitu makelar. Makelar inilah yang berperan sebagai perantara kemudahaan akses tante – tante memperoleh brondong dan begitupula sebaliknya karena memang tidak sembarang orang yang bisa masuk kedalam komunitas tersebut, maka disinilah para brondong membutuhkan peran makelar tersebut.

Arisan brondong ini tidak hanya dikarenakan motif ketidak puasan batin para wanita separuh baya tersebut, melainkan juga adanya motif bisnis para makelar dan brondong. Para makelar bisa mendapatkan sekitar 20 juta rupiah dalam sekali transaksi dan para brondong mendapatkan 1 – 5 juta rupiah. Angka yang cukup fantastis untuk para makelar yang biasanya berprofesi sebagai karyawan swasta dan supir taksi, begitu pula untuk para brondong yang biasanya dari kalangan mahasiswa atau anak pemuda. Tidak cukup sampai disana apabila para brondong dapat memuaskan “para tante” mereka akan dijadikan pacar dan hidupnya dibiayai oleh “para tante” tersebut.

Ada asap, maka ada api, ada sebab maka ada akibat tentu saja kegiatan arisan brondong ini menimbulkan segudang akibat. Sebuah akibat yang terdekat dari adanya kegiatan ini, yaitu penyakit kelamin dan kelainan seksual. Betapa tidak mereka yang melakukan arisan brondong sering kali bertukar “pasangan” hal ini mereka lakukan demi mendapatkan sensasi dan fantasi seksual yang berbeda, tak jarang mereka yang menjadi brondong harus melayani 3 wanita sekaligus dengan berbagai variasi gaya yang tak sewajarnya dalam hubungan seksual, maka penyakit kelamin dan kelainan seksual adalah konsekuensinya. Retaknya keharmonisan keluarga dapat dibayangkan jika perbuatan ini diketahui oleh pasangan yang sah (suami) betapa marahnya mereka melihat perilaku istrinya telah menodai kesaklralan pernikahan dan keharmonisan rumah tangga, terlebih lagi jika hal ini sampai terdengar oleh anak dan sanak saudara lainnya betapa marah dan malunya mereka mendengar dan melihat fakta yang terjadi.

Tercorengnya martabat pribadi dan keluarga serta adanya pengucilan dari masyarakat sekitar, sudah tentu perbuatan ini akan mencoreng nama baik pribadi dan keluarga dan pula menimbulkan adanya pengucilan oleh warga masyarakat sekitar karena telah melanggar nilai, moralitas, dan norma yang berlaku dan seharusnya kita ikuti dalam kehidupan terutama bermasyarakat. DO atau drop out, tentunya sebuah instansi lembaga pendidikan akan mengeluarkan mahasiswanya apabila terlibat dari praktik penyimpangan tersebut. Selain itu terjerat hukum, maka ketika sudah melanggar hukum tersebut biasanya menimbulkan labeling yang tidak baik dan penolakkan oleh masyarakat sekitar, ditambah parah lagi akan dipersulit memasuki dunia kerja, karena memang biasanya sebuah perusahaan ingin mendapatkan pekerja yang bersih dari catatan hitam oleh hukum.

Inilah ironi dari fakta yang ada dan memang sangat disayangkan mereka yang menjadi brondong adalah mahasiswa. Mahasiswa itu sendiri acap kali identik dengan kaum intelektual, kaum pembawa perubahan di masyarakat, dan generasi pelurus serta penerus bangsa dan Negara. Namun jika dikaitkan dengan fenomena ini para pelaku (brondong) sangat tidak mencerminkan seorang mahasiswa semestinya. Apabila hal ini tidak segera ditangani maka dapat kita bayangkan bagaimana nasib Negara dan bangsa kita di masa depan.

 

 

Fenomena ini begitu memprihatinkan, lantas apakah solusi alternatif untuk mengatasi setidaknya mereduksi perbuatan menyimpang ini ? Mengikuti pendidikan pra-nikah, calon pasangan suami – istri hendaknya mengikuti pendidikan pra – nikah agar dalam membina bahtera rumah tangga nanti dapat mensiati segala bentuk rintangan yang senantiasa menghadang perjalanan dalam membina keluarga, karena memang banyak di antara mereka yang keluarganya tidak harmonis dikarenakan tidak mengetahui cara yang baik dalam membina keluarga. Maka dengan terbinanya pasangan suami istri oleh pendidikan pra nikah sedikit banyaknya mereka mengetahui bagaimana seharusnya memperlakukan pasangan dan si buah hati agar senantiasa harmonis dan sesuai dengan ajaran agama serta kaidah yang berlaku di masyarakat.

Meluangkan waktu bersama pasangan, rutinitas yang dijalani sering kali menyita waktu sehingga waktu bersama pasangan cenderung terabaikan, padahal sesekali pasangan suami istri harusnya meluangkan waktu bersama entah itu hanya makan malam untuk berbincang mengenai kenangan romantis masa lalu dan perbincangan ringan lainnya, bahkan melakukan hubungan suami istri dengan variasi sewajarnya bila perlu berkonsultasi dengan dokter tentang bagaimana cara memenuhi kebutuhan batin pasangan. Betapa pentingnya mengagenda waktu bersama pasangan karena memang merujuk pada kasus ini, mereka yang mengikuti arisan brondong adalah perempuan – perempuan yang sering ditinggalkan oleh pasangannya.

Memberlakukan wajib mengikuti organisasi kemahasiswaan dan unit kegiatan mahasiswa di setiap perguruan tinggi, hal ini dilakukan untuk memanfaatkan waktu luang mahasiswa sehingga waktu luang yang dimiliki oleh mahasiswa dapat dimanfaatkan dengan baik, dan sedikit banyaknya untuk menghindari hal – hal yang tidak sewajarnya dilakukan oleh mahasiswa di waktu luang mereka. Bahkan pemberlakuan ini dapat pula dijadikan sebuah syarat kelulusan dan tak lupa menyertakan apresiasi sehingga mahasiswa lebih termotivasi memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan – kegiatan kampus.

Lantas bagaimana dengan mereka terbentur ekonomi, karena memang salah satu faktor mengapa mahasiswa menjadi brondong adalah motif ekonomi ? Setiap perguruan tinggi dapat memfasilitasinya dengan membuka keran beasiswa seluas – luasnya, mengaktifkan unit kegiatan mahasiswa yang memberikan kecakapan enterprenur dan menjalin mitra dengan beberapa instansi atau perusahaan tertentu. Sehingga mahasiswa dapat mencari sumber pendanaan hidupnya sehari – hari dengan memanfaatkan fasilitas – fasilitas yang disediakan oleh pihak kampus, dan satu hal yang perlu ditekankan yakni keterbukaan, dan kekeluargaan pihak kampus dan mahasiswa harus terjalin, karena memang tak jarang mahasiswa yang merasa canggung apabila berhadapan dengan pihak kampus.

Mengintensifkan dan mengoptimalkan penjaringan atau sidak ke hotel – hotel, karaokean, dan diskotik terlebih lagi yang terindikasi memfasilitasi kegiatan melanggar hukum. Penjaringan ini harus disertakan sanksi yang tegas baik untuk para pelaku penyimpangan atau pihak yang memfasilitasi agar adanya efek jera untuk semua pihak yang terlibat di dalam perbuatan yang melanggar hukum tersebut. Untuk mengoptimalkan upaya ini seluruh pihak yang berwajib harus memiliki kesamaan prinsip yakni menindak perbuatan yang melanggar hukum dan tahan terhadap pihak – pihak yang mencoba mengintervensi dan menyuap mereka.

Mengoptimalkan peran tokoh masyarakat, seringkali warga sekitar mengetahui bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan menyimpang dan melanggar hukum, namun mereka hanya diam, hal ini perlu menjadi perhatian tokoh masyarakat untuk membuka dialog dalam sebuah musyawarah antarwarga masyarakat dalam rangka mengetahui perkembangan warga masyarakat tersebut, dan membangun suasana musyawarah tersebut dengan penuh kehangatan seperti keluarga besar. Sehingga ketika menemui hal – hal yang dicurigai melanggar hukum dapat ditindak lanjuti bersama dalam musyawarah tersebut, dan jika memang terbukti melanggar hukum segeralah melaporkannya ke pihak berwajib.

Pendidikan tidak hanya ada di sekolah, pendidikan juga ada di dalam keluarga, maka dari itu dalam mengatasi kasus ini kita dapat pula menyoroti peran keluarga, karena memang keluarga agen pertama dalam menginternalisasikan nilai – nilai dan norma serta pembentukan pribadi seseorang. Peran keluarga disini dapat memberikan benteng – benteng agar seseorang dapat berperilaku sewajarnya, yakni melalui agama, dengan adanya internalisasi ajaran – ajaran agama seseorang senantiasa akan berpikir kembali apakah perbuatan yang dilakukanya melanggar ajaran agama atau tidak. Pendidikan dari keluarga melalui agama ini harus bersifat kontinuitas dan jika diperlukan kita dapat meminta tolong tokoh agama sebagai pembimbing.

 

 

Sumber :

Tribunsumsel. 2014.Seorang Brondong Bisa Kantongi Rp 5 Juta Sekali Kencan. [Online]. Tersedia : http://www.tribunnews.com. Diakses pada tanggal 15 July 2015

Gambar : http://www.dodaholiday.com/wp-content/uploads/2015/01/jembatan-ampera-di-bangun-pada-tahun.jpg

 


Leave a Reply