Penyimpangan Sosial : Remaja Purwakarta

  • 0

Penyimpangan Sosial : Remaja Purwakarta

Category : Tulisan

Cinta buta, begitulah representasi yang dapat menggambarkan remaja Purwakarta pada kasus tersebut, mereka melampaui batas nilai, norma, dan moral yang berlaku di masyarakat. “Kewajaran dari ketidakwajaran”  pada kasus ini adanya miss understanding tentang cara pergaulan dengan lawan jenis, seakan – akan mereka menganggap bahwa seks di luar nikah sesuatu yang lumrah di kalangan remaja di masa kekinian, padahal sudah jelas hal tersebut pasti di larang dan dianggap menyimpang.

Lantas mengapa hal ini bisa terjadinya ? untuk menjawab pertanyaan tersebut, alangkah lebih baiknya kita menjabarkan terlebih dahulu kondisi objektif di Purwakarta khususnya kawasan yang sering dipakai tempat maksiat tersebut. Tak sedikitpun penulis bermaksud menjelekkan kampung halaman sendiri, namun perlunya pemaparan objektif agar dapat menyingkap penyebab dibalik kasus ini. Apabila kita amati bahwa sekitar statsiun kereta Purwakarta sangatlah dapat memberikan akses seluas – luasnya para remaja untuk melakukan perilaku seks bebas, betapa tidak dengan kurangnya penerangan, penjagaan yang lemah, dan notabene wilayah tersebut di kenal sebagai lingkungan slum dimana para PSK berkeliaran.

Kawasan tersebut juga berdekatan dengan tempat “nongkrong” yaitu situ buleud hampir sebagian besar remaja di Purwakarta sering berkumpul disana sekalipun hanya sekadar “nongkrong” namun ketika menjelang tempat tersebut seperti disulap kehidupan malam mulai bermunculan, terlebih lagi begitu miris tempat tersebut juga acap kali dijadikan tempat transaksi PSK baik itu di warung – warung secara terselubung maupun di salon penyedia layanan plus. Para remaja yang memadu kasih dan “racun” atau istilah yang familiar di kalangan remaja yaitu “pacaran” mereka melakukanya di sudut tepi situ buleud yang gelap mereka semakin leluasa dengan adanya pemagaran situ buleud dengan pagar besi yang tinggi karena memang dengan begitu maka pengawasan semakin sulit untuk dilakukan.

“Kalau gak di gerbong, yang agak elit di kotsan” kemudahan untuk melakukan seks bebas tersebut semakin terbuka dengan adanya sebuah kotsan yang diindikasikan “biang kerok” yang bersedia menerima bagi muda – mudi untuk memadu kasih dan “racun”, di dalam sana tentu apa saja bisa terjadi karena privasi lebih terjaga. Memang begitu ironis pergaulan remaja di Purwakarta terlebih lagi menjelang malam minggu kuantitas terjadinya penyimpangan tersebut sangatlah mengkhawatirkan karena memang biasanya muncul sebuah komunitas yakni NAKAL sesuai dengan namanya mereka cenderung melakukan hal – hal yang immoral dan dari sekian banyak muda – mudi yang pernah tertangkap basah melakukan hubungan seks di gerbong kereta disinyalir mereka bagian dari anggota NAKAL, kendati demikian tidak menutup kemungkinan remaja yang lain melakukan hal yang sama.

Warung Internet atau warnet sangat menjamur di wilayah tersebut sesuai dengan apa yang tersaji pada artikel bahwa salah satu penyebabnya yakni video porno hal ini tak dapat terlepas dari teknologi informasi yang dapat diakses secara bebas, para remaja bahkan ada yang memanfaatkanya untuk memadu kasih langsung di warnet tersebut. Kendatipun kecanggihan teknologi ini merupakan bukan faktor primer menurut saya pribadi namun ketika dalam lingkungan yang seakan – akan memberikan kemudahan untuk melakukan seks bebas ditambah lagi diperparah oleh adanya kemudahan akses untuk video porno.

Bagaimana dengan sikap keluarga, masyarakat, dan pemerintah setempat ? apabila kita perhatikan dari artikel yang tersaji keluarga dari mereka yang hamil di luar nikah yakni kurang memperhatikan anak remajanya, biasanya ketika diketahui anaknya hamil mereka langsung mengambil langkah untuk menikahkan anaknya tersebut, al hasil anaknya harus putus sekolah. Penulis meyakini pihak keluarga pasti merasa kecewa dengan peristiwa ini, namun memang hal inilah dapat dianggap jalan terbaik.

Masyarakat nampaknya seakan – akan menutup mata dan telinganya, mereka cenderung bersifat apatis, padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa lokasi – lokasi seperti gerbong kereta, situ buleud, dan kotsan sekitar tersebut kerap kali dijadikan tempat maksiat, coba kita perhatikan selain masyarakat dimana peran ketua RT/RW setempat padahal untuk kotsan seharusnya ada laporan, apakah laporan tersebut hanya sekadar laporan lalu dilupakan ? pengamanan dari SATPOL PP yang sering kali “kecolongan” memang harus bekerja ekstra agar setidaknya mengurangi perilaku seks bebas di kalangan remaja Purwakarta. Pemberlakuan jam malam dari pemerintah setempat belum berjalan secara optimal karena memang dalam praktiknya human eror tidak dapat dihindari. Maka dari itu nampaknya pemerintah setempat harus lebih mempersiapkan tentang penyelenggaraan jam malam tersebut.

Secara ringkas penyebab dari merabaknya perilaku seks bebas di kalangan remaja Purwakarta, yaitu :

  1. Imitasi negatif, perwujudan dari rasa penasaran atas adegan dewasa dari video porno
  2. Pengaruh lingkungan sosial (slum), intensitas berinteraksi di lingkungan tersebut mengakibatkan remaja seperti menganggap biasa perilaku seks bebas dan menjadi hal yang dianggap wajar, namun pada kenyataanya tidak wajar atau “kewajaran dari ketidakwajaran”
  3. Kurangnya pengawasan dan pengamanan lokasi – lokasi yang terindikasi sering dijadikan praktek perbuatan menyimpang tersebut
  4. Lemahnya pengaturan dan pelaksanaan program jam malam dari pemerintah setempat
  5. Sikap apatis masyarakat sekitar terhadap perbuatan menyimpang atau perilaku seks bebas yang dilakukan di sekitar mereka
  6. Kurangnya perhatian, dan pengawasan orang tua terhadap anak remajanya, serta minimnya pengendalian diri pelaku untuk menahan perbuatan menyimpang tersebut
  7. Mengalami sosialisasi sub kebudayaan yang menyimpang, seperti contoh yang telah dipaparkan “Komunitas NAKAL” yang notabene menghendaki adanya perbuatan seks bebas.

Kasus – kasus ini menambah catatan hitam sejarah Purwakarta karena memang menurut dinas kesehatan setempat hingga triwulan 3 di 2013 ini jumlah kasus penderita positif HIV AIDS mencapai 57 orang (Pasundan Ekspress : 6 Desember 2013). Jika hal ini terus menerus dibiarkan tak ayal Purwakarta seperti Light Red Distric Amsterdam padahal sudah jelas bahwa perbuatan tersebut tidak selaras dengan nilai, norma, moral, dan hukum yang berlaku di masyarakat. Untuk itu sebagai rujukan solusi yang diharapkan dapat menyelesaikan atau setidaknya mereduksi permasalahan ini, yaitu :

  1. Mensinergiskan dan merevitalisasi fungsi pengawasan dan pengamanan pemerintah setempat, Rt/Rw, dan masyarakat sekitar
  2. Memberlakukan penyuluhan atau pendidikan seks, memang di kalangan masyarakat kita apabila berbicara pendidikan seks masih dianggap tabu namun hal inilah yang setidaknya dapat menjadi bekal agar remaja terhindar dari perbuatan seks bebas karena memang terkadang mereka melakukan hal tersebut karena tidak tahu – menahu akibat dari perbuatanya tersebut.
  3. Memperkuat asas religius di persekolahan, karena banyak diantara mereka yang melakukan seks bebas ini adalah para remaja yang masih bersekolah, maka diharapkan dengan adanya penguatan asas religius ini dapat menjadi benteng untuk terhindar dari perbuatan tersebut.
  4. Bekerja sama dengan pihak provider internet dan kartu ponsel agar dapat memblokir situs – situs porno
  5. Memberlakukan surat izin bebas operasi bagi pengusaha warnet dengan catatan warnet tersebut tidak memperbolehkan atau memblokir penggunaan akses situs porno.
  6. Mengadakan sidak secara incidental dan intensif pada lokasi – lokasi yang diindikasikan kerap kali dijadikan tempat perbuatan menyimpang.
  7. The cadre approach & Comprehensive Approach[1] dengan mengadopsi konsep dari The Ohio Commisioan on Dispute on Resolution and Conflict Management (Bunyamin, 64 : 2008) maka dalam konteks konten yang diberikan yakni pendidikan seks dan penguatan asas religius baik itu diterapkan melalui pendekatan kader yang secara khas merupakan suatu pendekatan dimana hanya sejumlah kecil siswa/remaja diberikan pemahaman agar nantinya kader tersebut dapat menjadi pelopor sekaligus menyebarkan virus baik pada sebayanya. maupun pendekatan menyeluruh yakni merupakan program sekolah yang meluas dan difokuskan dengan ruanglingkup dan isi yang luas serta mencakup integrasi konsep dan pemahaman tentang seks dan agama ke dalam kurikulum, perumusan misi, dan kebijakan serta prosedur sekolah.

“Tak ada gading yang tak retak” maka dari itu untuk meminimalisir kemungkinan keretakan dalam upaya menyelesaikan kasus ini sangat dibutuhkan sekali itikad baik dan kerja ekstra seluruh komponen masyarakat, baik itu pemerintah, keluarga, tokoh agama dan pendidikan setempat, dan masyarakat sekitar agar senantiasa solusi – solusi yang telah dipaparkan tersebut dapat mengenai sasaran dan tujuan yang dimaksud.

Sumber

[1] Bunyamin Maftuh. Pendidikan Resolusi Konflik. CV Yasindo Multi Aspek, Bandung. 2008 hlm.64

Pasundan. 2013. Kasus HIV di Purwakarta. (Online). http://www.pasundanekspres.co.id/purwakarta/10939-ditemukan-57-kasus-hiv-di-purwakarta. diakses pada tanggal 11 Juli 2014.

 

Kompas. 2014. Gelora Cinta Remaja di Kereta Bekas. (Online) http://www.merdeka.com/peristiwa/gelora-cinta-remaja-purwakarta-di-kereta-bekas.html. diakses pada tanggal 11 Juli 2014.

 

Kompas. 2014. Pelajar Hamil di Luar Nikah Marak di Purwakarta. (Online).http://www.merdeka.com/peristiwa/pelajar-hamil-di-luar-nikah-marak-di-purwakarta.html. diakses pada tanggal 11 Juli 2014.

 

Sumber Gambar : http://www.anneahira.com/images_wp/penyimpangan-sosial-di-indonesia.jpg


Leave a Reply