Budaya Hierarki : Bagi “Kuenya” Dong ! Sebuah Pergunjingan Realitas Sosial dan Politik

  • 0

Budaya Hierarki : Bagi “Kuenya” Dong ! Sebuah Pergunjingan Realitas Sosial dan Politik

Category : Tulisan

Pengantar

Masyarakat menghasilkan budaya, membutuhkan budaya, dan menggerakan budaya. Begitulah kurang lebih keterkaitan antara manusia dengan budaya. Pada tulisan kali ini saya akan menumpahkan sekelumit pengalaman dan analisis amatir secara empiris dan sedikit teoritis. Pada mulanya saya takut untuk menyalurkan “kegelisahan pemikiran” ini, bisa saja setelah tulisan ini diposting tiba – tiba esok atau lusa ada orang menyambangi rumah saya kemudian melempari rumah saya dengan telur busuk.

Sebelum atau sesudah Hari Raya Idul Fitri 1436 H di antara pembaca termasuk saya sebagai penulis tentu melakukan kegiatan khas, yaitu menyambangi rumah “Mbah”¸ orang tua dan sanak saudara lainnya untuk silahtuhrahmi. Saya menyuguhkan momentum Idul Fitri, bukan bermaksud menyinggung soal dapat ”pecingan, ampau” (baca: THR), melainkan persoalan tradisi yang terbentuk ketika berkumpul dan silahtuhrahmi dengan keluarga ketika di hari tersebut.

Sungkeman dan “Vitamin E”

Sungkeman di beberapa keluarga mungkin menjadi tradisi yang tak terlewatkan, seluruh anggota keluarga berkumpul saling bercengkrama silih hampura silih asih mugia ditampi ibadahna, salah satu “ajian” tatkala sungkeman dengan sesepuh atau orang yang dituakan di keluarga. Demikianlah sebuah penghormatan dari “si muda kepada si tua” tidak ada unsur penghinaan dari proses penghormatan tersebut, yang muda bukan berarti tunduk, yang tua bukan berarti berkuasa, bukan pula “ajang test kebugaran” untuk menjelaskan siapa “si bugar dan si renta”.

Pergunjingan kumpulan para sesepuh di tanah jawa “bocah lanang kok ora tau totokromo ngomong karo orangtua kasar nemen”. Ilustrasi tersebut memperlihatkan begitu kuat hasrat “Budaya Hierarki” dan beretika di masyarakat kita. Bisa saja “digampar” sampai bonyok kalau terus menerus si bocah lanang itu ngeyel sampai tingkat dewa. Suatu keberuntungan jika ada keluarga yang selalu memberikan asupan “vitamin E” (baca: etika), dan babak belurlah keluarga jika ada anggotanya kekurangan “vitamin E”.

Terimakasih Mr. Peter L. Berger

Setelah beberapa kali diskusi ngaler ngidul di sudut – sudut kampus bersama beberapa kawan lama, akhirnya Gusti Allah mempertemukan saya dengan tumpukan kertas bertinta karya dari Mr. Peter L.Berger yang gemar ngarasani (baca : membicarakan) Strukturalisme dan Interaksionalisme dengan akal sehatnya yang menurut analisis sempit saya menyerempet tentang “Budaya Hierarki” sebagai suatu realitas sosial di masyarakat kita.

Untuk menghindari gatal – gatal karena alergi terhadap teori, panggil saja Peter L. Berger dengan sapaan Om Berger. Saya mengutip pernyataan pertama Om Berger bahwa “sebagai suatu sistem, masyarakat saling berhubungan dinamis bergerak menuju keseimbangan, dan melakukan penyesuaian atas konsensus yang kemudian berfungsi sebagai struktur yang membatasi tindakan setiap anggota masyarakat pada intinya” Peter L. Berger dalam (Yusup, 2015 : 137) . Kata kunci dari pernytaan si om yang pertama adalah struktur dan pembatasan tindakan.

Secara alamiah dan tak usah diprotes bahwa stratifikasi adalah realitas dari struktur sosial yang membagi manusia dalam kelompok – kelompok secara bertingkat atau vertikal  kemudian disambung dengan pembatasan tindakan, dapat dicontohkan pada tataran strata atas dasar kekuasaan seorang pejabat mentri tentu tindak tanduknya akan berbeda dengan masyarakat awam begitu pula dengan penggunaan kekuasaannya. Adapun yang lebih mudah dicerna yakni bagaimana ketika berinteraksi dengan orang yang dituakan, seumuran, dan yang lebih muda tentu berbeda, misalnya di Suku Sunda mengenal  istilah undak-unduk basa, yaitu tentang tingkatan penggunaan bahasa.

Perkembangan manusia sejak kecil hingga dewasa memang sangat ditentukan secara sosial, sejalan dengan pemikiran Om Berger dan temanya Om Luckman dalam (Yusup, 2015 :139)“Tidak mungkin bagi manusia untuk berkembang sebagai manusia dalam keadaan terisolasi untuk menghasilkan suatu lingkungan manusiawi”. Dari pernyataan tersebut benang merahnya bahwa manusia tidak dapat menghindari realitas untuk hidup bersama dengan manusia lain dan selalu “dikuntit” budaya sebagai “buah hati” dari kegiatan bermasyarakat.  

Kisah Horror Politis Budaya Hierarki

            Setelah Om Berger berbaik hati menyampaikan penemuanya, mari kita ucapkan “terimakasih” dan kembali melanjutkan “pergunjingan” ini. Ada sebuah pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung pepatah tersebut sebenarnya dapat menjadi sebuah kunci dari perbincangan ini pasalnya “Budaya Hierarki” sebagai sebuah penghormatan dan beretika begitu kontekstual, contoh sederhana ketika seorang anak bermain tenis dengan orang tua, tentunya pada saat permainan berlangsung yang terpikirkan bahwa kegiatan tersebut hanya iseng atau rekreasi semata sehingga tidak ada anggapan orang tua sebagai lawan dalam permainan tersebut, kemungkinan besar Si Anak akan sedikit mengalah karena setidaknya Si Anak tidak menang telak dan memberikan kesempatan orangtuanya mencuri point darinya.

Ada sebuah kisah, menjelang senja seorang mentri mampir ke tempat golf untuk melepas penat setelah seharian kerja di kantor. Dengan siap siaga seorang pemandu menyambut dengan hangat kedatangan Pak Mentri. Baru saja setengah jalan permain Pak Mentri sudah menguasai permainan. “Pak hebat betul permainanya” puji pemandu, “ya begitulah” jawab singkat Pak Mentri. Di waktu istirahat pemandu tadi datang lagi menghampiri Pak Mentri. Ia mulai melancarkan aksinya bertanya ngaler ngidul tentang kementrian dan meminta “koneksi” bagaimana caranya agar jadi mentri.

Sementara itu di benak Pak Mentri sudah menduga pemandu ini sengaja mengalah untuk meninggikan dirinya, ketika lengah dia mulai mencuri secuil “kue” dari dirinya. Pak Mentri sudah mencurigai dari awal, wajah dari pemandu ini familiar seperti pernah melihat fotonya terpampang di jalanan sebagai caleg dan ternyata kecurigaanya terjawab setelah si pemandu tersebut sok kenal sok dekat ngaler ngidul mancing obrolan tentang “kue”.  Pemandangan tentang “Budaya Hierarki” dari kisah Pak Mentri jadi tidak romantis melainkan horror dan politis lain halnya dengan kisah Si Anak dan orangtuanya yang begitu mesra.

 Sumber Pustaka : Yusup, Marisa Harni dkk.2015. Teori Sosiologi Modern. Rizqi Pers : Bandung.

Sumber Gambar : https://tystiklassen.files.wordpress.com/2014/03/hierarki1.jpg

 


Leave a Reply