Filosofi Bumi dan Langit : Act Locally Think Globally

  • 0

Filosofi Bumi dan Langit : Act Locally Think Globally

Category : Tulisan

Era globalisasi merupakan sebuah tantangan zaman yang harus kita sikapi secara bijaksana. Pengertian globalisasi sangat banyak yang salah satunya menurut Wikipedia adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.

Beranjak dari pengertian itulah penulis mengembangan aspek globalisasi terhadap kebudayaan, seperti yang kita tahu masuknya globalisasi ini tidak bisa kita tahan sehingga banyak hal-hal yang positif maupun negatif yang masuk ke negara kita yaitu negara Indonesia. Dalam perspektif budaya globalisasi mendatangkan kerugian dan keuntungan, kerugiannya adalah adanya plagiat terhadap budaya kita, seperti contoh tari Reog Ponorogo dan Angklung yang di klaim oleh negara tetangga, gaya rambut dan gaya pakaian yang meniru kebudayaan orang lain yang tidak sesuai dengan budaya kita  itu merupakan contoh kecil efek dari globalisasi terhadap kebudayaan.  Maka sudahkah kita siap dengan globalisasi yang memengaruhi budaya kita ? Namun, penulis tidak memandang globalisasi ini sebelah mata, ada dampak positif pula dari adanya globalisasi terhadap kebudayaan Indonesia, seperti tari-tarian tradisional kita telah terkenal di mancanegara, batik sebagai ciri khas produk Indonesia kini telah di akui oleh internasional dan negara luar banyak yang menyukai bahkan menggunakan baju batik.

Disini hal yang harus kita waspadai bagaimana agar pengaruh negatif dari globalisasi terhadap kebudayaan itu kita hindari, kita harus jeli memfilter budaya yang masuk dari luar jangan sampai budaya tersebut bertentangan dengan kultur budaya Indonesia. Act locally think globally ini  merupakan sebuah tindakan yang nyata yang bisa kita lakukan dengan berbuat, bertindak dan segala hal kita lakukan berbau lokal namun pemikiran kita tetap global.

Penulis menguraikan bahwasannya kita sebagai masyarakat Indonesia harus tetap bertindak lokal dan menjunjung tinggi budaya lokal Indonesia namun tidak pula bersikap etnosentrisme yaitu mengagung-agungkan budaya sendiri tanpa melihat perspektif budaya orang lain. Sebagai masyarakat yang multikultural sudah seharusnya mencintai Indonesia itu sendiri, mulai dari hal yang terkecil seperti : membeli produk dalam negeri, mengadakan sanggar kesenian di berbagai daerah, hal tersebut agar kebudayaan kita tidaklah pudar dimakan habis oleh zaman.

Think global sebenarnya adalah sebuah ajakan agar kita tidak terjebak dalam ke kunoan gerakan yang selama ini masih kita koar-koarkan. Era global menuntut kita untuk berpikir global , jangan sampai berlarut-larut dalam persepsi usang seperti menyebut penjajah secara perkataan mungkin kita bisa menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan penjajah di era sekarang di Indonesia adalah kemiskinan, kebodohan, dan jeleknya moral. Perlu keluasan dan keluwesan cara berpikir kita, pemuda dan mahasiswa tidak terkungkung dan terjebak dalam pergerakkan yang sudah terlalu mainstream.

Disamping hal tersebut, kita sudah seharusnya berpikir global dalam artian cara pandang kita dan cara berpikir terhadap suatu masalah, kejadian atau kegiatan  dari sudut kepentingan global, yaitu dari sisi kepentingan dunia dan internasional, dengan kata lain pola pikir pemikiran kita harus luas  jangan ortodoks atau ketinggalan zaman, janganlah kita menutup diri dengan perkembangan informasi dan teknologi global saat ini. Boleh saja kita menyerap hasil dari globalisasi itu namun jangan sampai budaya lokal kita diabaikan. Hal ini berkaitan dengan pendidikan zaman sekarang, sekarang dalam upaya menjaga budaya lokal itu sendiri terciptanya “pendidikan berorientasi budaya” hal tersebut sudah kita rasakan pada tahap jenjang SD, SMP, dan SMA kita mengenal istilah “mulok” atau muatan lokal. Itulah salah satu act locally pemerintah dalam menstransmisikan budaya lokalnya terhadap generasi penerus bangsa.

Pendidikan yang berorientasi budaya ini dimaksudkan agar peserta didik dapat memiliki filterisasi dan menyadari bahwa kita termasuk masyarakat yang multikultural. Masyarakat multikultural yang terdiri dari perbedaan agama, budaya, suku, serta status sosial yang ada dalam masyarakat. Beranjak dari hal itu maka pendidikan mengemas materi ajarnya berbasis konten budaya agar budaya Indonesia tidak punah ditelan zaman. Memudarnya budaya Indonesia sangat memungkinkan terjadi, sebagai contoh saja terdapat pada orang yang mengaku suku Sunda akan tetapi berbicara dengan bahasa Sunda saja kurang mahir atau masih belepotan. Hal tersebut merupakan contoh kecil dari terkikisnya budaya lokal yang ada di masyarakat.

Belum lagi saat ini hadirnya gadget baru, facebook, twitter, atau permainan game online yang menjadi virus terkikisnya budaya. Berbeda dengan anak zaman dahulu, seusia sekolah dasar yang mereka mainkan adalah beberapa permainan tradisional seperti bola bekel, petak umpet, dsb. Lain halnya dengan anak zaman sekarang, seusia sekolah dasar saja mainannya sudah berbau online. Maka atas dasar kasus itulah pengemasan pendidikan kini tidak hanya bertujuan untuk mencapai kurikulum formal saja, namun ditekankan agar peserta didik juga dapat terus menjujung budaya Indonesia yang menjadi martabat Indonesia itu sendiri.

Act locally ini berfungsi agar kita sadar bahwasannya gerakan-gerakan dalam skala lokal menjadi perhatian utama sebagai orientasi dalam menyelesaikan permasalahn global. Ide awalnya adalah mari kita renungi dan berlakukan lagi hal-hal yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 adalah kemajuan bangsa. Hal ini sudah barang tentu seharusnya kita mulai berkarya dari hal yang terpenting saja yang akan mendatangkan manfaat untuk orang banyak di lingkungan tersebut. Dari karya-karya tersebut yang kita aplikasikan merupakan implementasi dari “act locally, think globally”.

Pada kesimpulannya penulis merasa perlu sekali adanya perhatian dari berbagai pihak menyikapi arus globalisasi yang mempengaruhi budaya ini. Hal tersebut bisa kita mulai dari diri kita sendiri untuk lebih mencintai kebudayaan yang beraneka ragam ini dan kita pula tetap berpikir global seperti makna dari tulisan essay ini bahwasannya berpikir global dan bertindak lokal merupakan suatu jalan yang bisa kita ambil untuk menghadapi era globalisasi ini. Hal tersebut jika kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari dapat memengaruhi perubahan bangsa ke arah yang lebih maju, banyaknya pemberitaan martabat Indonesia diinjak-injak merupakan sebuah renungan yang harus kita lakukan bersama, tindakan ini bukan diperuntukkan bagi pemerintah saja yang mengatur negara Indonesia yang luas ini, namun sebagai masyarakat harus melakukan hal yang sama pula demi terciptanya kerjasama yang menguntungkan di semua pihak.

Sumber gambar : https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/95/32/10/953210e10f6be74bc980056a63da25f8.jpg


Leave a Reply