DEWI SRI GALAU DI HARI ANGIN (Persoalan Aturan Tentang Larangan Menghina Presiden : Antara Pembelajaran dan Pembatasan)

  • 0

DEWI SRI GALAU DI HARI ANGIN (Persoalan Aturan Tentang Larangan Menghina Presiden : Antara Pembelajaran dan Pembatasan)

Category : Tulisan

Televisi “haha hihi”

Pagi hari ketika saya menikmati matahari centil ditemani angin yang mesra, tangan ini tergugah menekan tombol power televisi. Geli betul mata saya menyaksikan channel yang “haha hihi” namun tumben ada yang menarik perhatian yaitu obrolan pagi antara 1 orang mas-mas dan 3 orang mbak-mbak mungkin mereka sedang ngobrol serius tentang politik.
Ya saya coba “meng-asyikkan” nongkrong memperhatikan obrolan mereka. Lumayan sekitar 5 menit saya mudeng mereka sedang “ngaler ngidul”  bahas etika dan harga diri seorang tokoh.

Wacana Mengajak Maen Bola Karet

Tak mau dianggap setengah-setengah saya setia sampai mereka berhenti “nge-busa”. Memang agak membingungkan akhir-akhir ini warga Negara Dewi Sri hobi “nge-roasting” sampai menghina Presidennya. “orang kita kan dikenal ramah, berbudaya, dan beradab masa punya hobi menghina” ungkap salah satu mbak-mbak yang katanya wakil rakyat. Tak mau kalah dengan mbak yang satunya, mbak pengamat menjawab “saya yakin kebijakan tentang larangan meroasting Presiden dapat menjadi bola karet apabila diberlakukan bisa jadi kita mundur lagi ke masa orba”.

Undangan Terbuka Bagi Demonstran

Negara Dewi Sri pernah berpesta pora, jutaan manusia bertumpah ruah di jalanan pada tahun 1966 dan 1998, peristiwa ini mungkin yang dirindukan pemerintah sekarang, mereka ingin mendengarkan suara merdu dari terompet perjuangan (baca:TOA) dari kalangan aktivis. Permainan bola karet ini memang menjadi trauma, pasalnya pemaknaan akan multitafsir dari berbagai kalangan antara pemberian pembelajaran beretika atau pembatasan bersuara.

Presiden Dewi Sri Kesurupan

Presiden Dewi Sri nampaknya belum diruqyah sampai tuntas sehingga ada saja makhluk yang merasukinya mungkin butuh ruwatan nasional agar “penggangu” itu kocar kacir, padahal sudah banyak dijelaskan di beberapa literatur bahwa Dewi Sri pernah kerasukan zero conflict (Dewi Sri tanpa konflik) pada masa orba sehingga banyak yang surat kabar yang dibredel dan mulut yang menentang dijahit serapat – rapatnya.

Waspada “Nafsu Setaniah”

Sedikit mengesampingkan kecurigaan, semoga saja permainan bola karet (baca:aturan larangan penghinaan presiden) ini merupakan upaya pengembalian karakter  warga Dewi Sri yang santun dan tidak ada intrik “nafsu setaniah” dari pemerintah sehingga mereka anti kritik dari warga negaranya.


Leave a Reply