Catatan Kecil Semester Padat : Konflik

  • 0

Catatan Kecil Semester Padat : Konflik

Category : Tulisan

Definisi Konflik dan Jenis – Jenis Konflik

Secara etimologi konflik berasal dari bahasa latin configere (saling memukul). Sedangkan secara terminologi konflik, yaitu  bentuk interaksi sosial ketika dua individu atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda dan kehilangan keharmonisan diantara mereka. Dalam suatu situasi konflik, seseorang mungkin menghindari, mengalahkan, atau bahkan menghancurkan pihak lain, konflik lebih dipengaruhi oleh perbedaan daripada persamaan[1].

Jenis – jenis konflik itu sendiri seperti yang diungkapkan oleh Hunt dan Metacalf (Bunyamin, 2008 : 13)  membagi dua jenis konflik, yaitu intrapersonal conflict dan interpersonal conflict. Intrapersonal conflict adalah konflik yang terjadi dalam diri individu sendiri, konflik ini berisfat psikologis jika tidak mampu diatasi maka menimbulkan gangguan psikis. Interpersonal conflict terjadi dalam hubungan sosial antarindividu atau antarkelompok sehingga dapat disebut konflik sosial, hampir di setiap lapisan konflik ini bisa terjadi.

Adapun pembagian jenis konflik lainnya dapat dilihat ke arah mana konflik itu ditujukan, baik itu secara horizontal maupun vertikal (Bunyamin Maftuh, 2008 : 16). Konflik secara horizontal terjadi anatar pihak yang memiliki kedudukan sederajat, misalnya konflik antar masyarakat, antar mahasiswa dsb. Konflik vertikal adalah konflik anatara dua pihak yang memiliki kedudukan sosial yang berbeda, satu pihak berada di posisi lebih tinggi (superordinat) dan pihak lain berada di bawahnya (subordinat), misalnya rakyat dan pemerintah, mahasiswa dan pemerintah (peristiwa reformasi 98) dsb.

Teori Sumber Konflik

Berdasarkan pendapat Jeong (Bunyamin Maftuh, 2008 : 23) ada beberapa teori yang menjadi sumber konflik, yaitu hipotesis frustasi – agresi, perspektif psikoanalisis, kehilangan relative, dan teori kebutuhan dasar. Hipotesis frustasi – agresi menyatakan bahwa manusia, sebagai organisme yang berorientasi tujuan, secara alamiah menjadi jengkel (sakit hati) bila mereka dicegah untuk mencapai apa yang mereka dambakan. Perilaku agresi atau konflik sering digunakan untuk melepaskan frustasi. Perspektif psikoanalisis sumber konflik seseorang individu atau kelompok menjadi musuh indvidu atau kelompok lainnya melalui suatu proses psikologis yang tak disadari yang dipengaruhi oleh polaritas postif dan negatif pada kesadaran diri (self-awarness). Teori kehilangan relatif menyatakan konflik berasal dari kombinasi dari pengharapan yang muncul dan kekurangan kemajuan terhadap tuntutan yang lebih baik. Perspektif kebutuhan dasar, manusia mempunyai kebutuhan dasar biologis dan psikologis yang harus dipenuhi.

Sedangkan dengan dalam perspektif sosiologi Oberschall (Bunyamin Maftuh, 2008 : 26) sumber konflik sosial dapat muncul pada suatu tatanan sosial yang tidak adil manakala ada dominasi dan subordinasi yang memberikan kesempatan untuk eksploitasi, hal ini dapat meliputi ketidakpuasan ekonomi dan ketidakpuasan politik karena memang sumber konflik yang berupa protes, pemberontakan, dan reformasi atau revolusi lebih condong disebabkan oleh dua hal tersebut.

Menurut social learning theory, perilaku tawuran atau kekerasan pelajar meruapakan perilaku hasil mecontoh (modeling) dari perilaku kekerasan yang dilakukan oleh orang lain, msailnya perilaku kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat. Myers menambahkan bahwa sumber konflik juga terjadi karena adanya dorongan (arousal) ketidaktahanan atau ketidakmampuan untuk mencegah (disinhibits), dan peniruan (imitation). Teori identitas sosial (social identity theory) oleh Hogg dan Abrams (Bunyamin Maftuh, 2008 : 37) perilaku individu didalam dan antarkelompok dapat dijelaskan berdasar pada keanggotaan mereka dalam kelompok sosial tertentu dan proses identifikasi didalam kelompoknya.

Teori peningkatan reputasi (reputation enhancement theory) setiap individu atau kelompok berusaha mempunya reputasi yang baik dihadapan teman – teman sekelompoknya dalam upaya untuk memperoleh keuntungan emosional, ekonomis dan materi. Sudut pandang teori irasional (irrational theory) keterlibatan individu dalam perilaku kolektif tidak didasarkan pada pertimbangan rasional pelakunya. Ketika individu – individu hadir pada situasi problematic dalam suatu kerumunan, mereka mungkin berperilaku irasional karena pengaruh kerumunan.

Konflik dalam Perspektif Sosiologi[2]

Konflik dalam perspektif para sosiolog terdapat sebuah kontradiksi antara kaum fungsionalis (Talcott Parsons) dan kaum penganut teori konflik (Karl Marx). Menurut para pengembang teori fungsional – structural seperti Parsons dan Merton, mereka lebih menekankan pada penyesuaian (adjustment) daripada konflik. Titik padang mereka tentang masyarakat difokuskan pada keseimbangan dan stabilitas daripada perubahan atau reformasi. Singkatnya mereka menolak dengan adanya sebuah konflik demi konsep unitary yang menekankan integrasi sosial dan efek harmoni nilai – nilai bersama.

Sedangkan mereka yang menganut teori konflik, Dahrendorf berpendapat tentang model dua-kelas dalam struktur sosial bahwa dalam setiap hubungan atau organisasi tertentu pasti aka nada suatu pembedaan dikotomi yang jelas anatara mereka yang menggunakan otoritas dan mereka yang tunduk pada pengguna otoritas. Singkatnya teori ini memandang bahwa konflik adalah sebuah fenomena yang alami terjadi di masyarakat, hal ini diperjelas oleh Simmel (Kamus Sosiologi, 2010 : 106) ia percaya bahwa konflik memiliki fungsi positif bagi stabilitas sosial dan membantu melestarikan kelompok atau kolektivitas.   

[1] Bunyamin Maftuh, Pendidikan Resolusi Konflik, CV Yasindo Multi Aspek, Bandung, 2008, hlm.13

[2] Nicholas Abercrombie dkk, Kamus Sosiologi, diterjemahkan oleh Desi Noyinai dkk, Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2010, hlm.106

Gambar : https://nidafe.files.wordpress.com/2013/12/picture1.jpg


Leave a Reply