Ide Tempo Dulu : Taman Kota Sukseskan Pemilu

  • 0

Ide Tempo Dulu : Taman Kota Sukseskan Pemilu

Category : Tulisan

Arti Penting Politik

Politik adalah sebuah kata tak asing lagi dalam hidup bernegara, semenjak di sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi setidaknya kita sudah mempelajari apa itu politik, pembahasan dasar tentang politik biasanya kita dapatkan di mata pelajaran/kuliah pancasila atau pendidikan kewarganegaraan (PKN) rentang 12 tahun apabila kita menghitungnya sampai sekolah menengah atas bukan waktu yang singkat kita mempelajari dasar politik. Namun persoalanya acap kali mendengar kata “politik” seakan kita apriori terhadap politik, hal ini mungkin karena adanya pergeseran pemahaman politik sebagaimana kita harus pahami  bahwa politik ini dapat mempengaruhi segala aspek kehidupan.

Untuk pemahaman arti penting poltik mari kita ulas dengan singkat peristiwa 1998, para mahasiswa dan segenap elemen masyarakat dengan jumlah massa yang banyak berbondong – bondong ke jalanan menuju gedung DPR menyuarakan tuntutanya agar Soeharto segera turun dari jabatanya sebagai Presiden RI. Pemerintahan Orde Baru dianggap telah gagal menjalankan amanahnya sebagai lembaga politik dan menjalankan Negara karena memang pada saat itu tengah terjadi krisis moneter, para investor menarik sahamnya dari Indonesia, dominasi ABRI dalam pemerintahan, dan pembredelan surat kabar yang mewartakan hal kontra dengan pemerintahan pada saat itu. Para demonstran menuntut hak – haknya sebagai warga Negara yang demokrasi agar hendaknya dilibatkan dalam urusan kebijakan publik, dan moment puncaknya para pejuang reformasi berkumpul menyelimuti gedung DPR untuk mendengarkan keputusan pengunduran Soeharto.  Lantas bagaimana dunia politik saat ini ?harapan di Era Reformasi  sudah barang tentu perpolitikan di Indonesia hendaknya lebih baik, setidaknya partisipasi masyarakat dalam pesta demokrasi (pemilu dan pilpress).

Namun apabila kita merujuk persentase dari Survei Institut Riset Indonesia, mereka yang akan menggunakan hak pilihnya dalam pilpres 2014 diprediksi 51,3% persentase tersebut menurun dari tahun 2009 yakni 72,10%. Menurut peneliti senior Institut Riset Indonesia, Mochtar W Oetomo memapakan hasil survei di Jakarta, “tingkat apatisme di masyarakat dari pemilu ke pemilu terus naik. Itu disebabkan adanya pameo yang tumbuh di masyarakat yaitu 4 L (Lu Lagi Lu Lagi) ”.

Kancah politik di Indonesia saat ini selain diwarnai oleh wajah – wajah lama disesaki pula wajah baru dari kalangan artis yang mencoba peruntungan dalam dunia politik di Indonesia, banyaknya partai politik yang mengusung artis sebagai kadernya mungkin hal ini dimaksudkan untuk menarik massa tapi di sisi lain menujukan adanya krisis kader yang berkualitas dalam parpol tersebut. “kesejahteraan untuk rakyat” kata tersebut nampaknya sudah bergeser hanya dijadikan slogan para elite politik karena memang melihat fakta sosial banyak para elite politik yang tersandung kasus korupsi sudah tentu korupsi tersebut merugikan banyak kalangan terutama rakyat “yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya” kata tersebut dapat mewakili kondisi Indonesia saat ini.

Menjamurnya partai politik dan bergesernya pemahaman esensi tujuan politik untuk kesejahteraan bersama, memunculkan konflik internal di dalam politik Indonesia. Adapun menjamurnya partai politik di Indonesia tak terlepas dari  kekangan dan dominasi satu partai politik di era Orde Baru. Mudahnya mendirikan partai politik ini dinilai telah mendiadakan esensi politik yakni untuk kesejahteraan bersama. Elly Malihah dalam kuliahnya mengemukakan bahwa banyaknya partai yang tengah mewarnai politik di Indonesia bukanlah pure partai politik melainkan perusahaan politik. Sejalan dengan pendapat tersebut dapat kita lihat dari fakta sosial yang sebelumnya telah dipaparkan, yakni banyaknya para elite poltik yang memperkaya diri dengan cara “hitam”, yaitu korupsi.

Meninjau dari ulasan singkat peristiwa tahun 1998 dan kondisi objektif politik Indonesia saat ini dapat kita ambil hikmah, meski memberikan suara dalam pemilu adalah hak bukan berarti kita golput karena memang apabila kita melihat pada masa Orde Baru penyelenggaraan pemilu tidak sebebas sekarang terlebih lagi ada dominasi partai penguasa. Jika memang kita tidak memberikan hak pilih dalam pemilu/pilpres sama saja tidak menghargai mereka yang telah berjuang menghilangkan dominasi partai penguasa dalam pemilu, namun di sisi lain hendaknya kita memberikan suara kita dengan bijaksana mengingat banyaknya para elite politik yang tersandung kasus korupsi dan menjamurnya partai politik yang tidak menutup kemungkinan partai politik hanya dijadikan perusahaan politik oleh mereka yang tak bertanggung jawab dan keliru memaknai esensi tujuan penyelengaraan politik dalam suatu Negara.

Merujuk pengertian politik secara praktis, yaitu sebagai seni, strategi, dan ilmu untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan, baik secara konstitusional maupun inkonstitusional. Mestinya kita memanfaatkan moment pemilu ini untuk memilih karena dengan begitu setidaknya kita telah ikut dalam kebijakan publik, karena memang begitu penting arti sebuah politik, misalkan suatu negara tengah terjadi keos dalam kehidupan berpolitiknya yang berimbas pada kebijakan – kebijakan ekonomi yang pada akhirnya para investor mencabut sahamnya sehingga banyak perusahaan yang merugi, harga naik dan para karyawan di PHK.

Harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, dan para karyawan di PHK situasi ini akan berdampak bertambahnya kemiskinan serta rendahnya tingkat kesehatan. Merujuk pada contoh tersebut dengan begitu betapa pentingnya keikutsertaan dalam berpolitik. “Kejahatan politik terjadi karena mereka yang baik tidak ikut serta dalam berpolitik” lantas masihkah golput menjadi jawaban untuk pemilu Indonesia tahun ini.

Konstruksi Pengaruh Sosial terhadap Kecenderungan Golongan Putih

            Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seseorang memiliki kecenderungan untuk memilih tidak memilih, antara lain :

  1. Media massa, sekarang ini banyak tontonan politik “kampanye” terlebih lagi menjelang pesta rakyat (Pemilu). Hal ini berdampak pada tontonan yang disiarkan di televisi seperti mulai muncul kompetisi antar partai politik yang berlomba untuk berkampanye lebih awal melalu media massa. Terlebih lagi banyak para elite politik yang tersandung kasus korupsi tanpa kita sadari hal ini seperti permainan saja, hampir setiap partai politik besar ada yang “mewakilkan” sebagai tersangka kasus korupsi dan apabila hal ini terus menjadi konsumsi massa baik individu maupun kelompok bisa jadi mereka menjadi apriori dan distrust terhadap politik. Adapun tontonan lain seperti sinetron dan hiburan musik yang berlebihan, hal itu mereka anggap menghibur. Terlebih lagi berdasarkan kompasiana.com sinetron dan variety show meduduki program televisi ter-hits sepanjang 2013. Jika sinetron dan tontonan hiburan lain memberikan kecenderungan theater of mind yang tidak baik, bisa jadi indvidu atau masyarakat yang mengkonsumsi terjebak dalam labirin khayalan tentang tontonan tersebut dan pada akhirnya mereka lebih mengkonsumsi tontonan tersebut dibandingkan berita, untuk melampiaskan kepanasaran mereka terhadap acara atau sinetron tersebut. Dari sisi yang lain ada asumsi menjamurnya acara variety show dan hiburan menunjukan betapa stress-nya masyarakat Indonesia sehingga hampir  setiap pagi sampai larut malam menonton acara variety show dan hiburan di televisi bahkan menonton secara langsung ke tempat acara itu berlangsung, terlebih lagi di beberapa acara ada pemberian sejumlah uang bagi mereka yang “kreatif”, tetapi disini apabila kita amati “kreatif” nampaknya beda tipis dengan seorang budak yakni seorang penonton rela meniru apa yang dijadikan persyaratan demi sejumlah uang bahkan lebih parahnya lagi penonton tersebut berasal dari luar kota, mungkin hal ini juga karena terlampau sulitnya mencari nafkah untuk sesuap nasi.
  2. Distrust, selain siaran di media massa yang dapat memberikan efek distrust yakni ketidakpercayaan yang disebabkan kekecewaan baik itu yang dilihat, didengar, maupun yang dirasakan. Meski sudah beberapa kali ganti pemimpin Negara beserta program – programnya tetapi indvidu atau masyarakat tidak merasakan perubahan, maka tak sedikit mereka yang mengeluhkan “ah untuk apalah kita memilih toh hidup kita tetap saja seperti ini” terlepas dari faktor lain yang merubah hidup indvidu atau masyarakat, acap kali kita menemukan keluhan tersebut di tengah masyarakat. Disinilah butuhnya action nyata dan langsung walaupun kecil apabila kita terjun langsung, maka distrust tersebut kemungkinan akan berkurang. Hal ini dapat kita lihat pada Joko Widodo (Gubernur Jakarta), pria yang akrab disapa Jokowi ini senantiasa melakukan blusukan untuk mengontrol keadaan, dan kebutuhan masyarkatanya selain itu sebagai bentuk nyata pengawasan kinerja instansi pemerintahan di Jakarta. Walau hal ini sederhana namun dapat mengikis distrust masyarakat terhadap politik terbukti dengan elektibilitas Jokowi meningkat hal ini setidaknya menunjukan adanya respon positif dari masyarakat.
  3. Kurang paham memaknai arti penting politik, seperti telah dijelaskan dimuka bahwa politik memiliki peran penting dalam kehidupan. Namun memang patut kita akui bahwa rata – rata pendidikan di Indonesia masih rendah sehingga mereka mengalamai yang namanya miss meaning terhadap politik sehingga mereka lebih memilih untuk tidak memilih. Lantas bagaimana dengan mereka yang paham politik terkadang mereka juga memilih untuk tidak memilih, hendaknya mereka memberikan contoh yang baik kepada mereka yang awam setidaknya jika kandidat pemimpin tidak memenuhi kualifikasi maka “pilih yang terbaik dari diantara yang jelek”. Walau memang di Indonesia untuk menggunakan suara kita dalam pemilu adalah hak bukan kewajiban maka dari itu hak itu boleh digunakan atau tidak tetapi sebagai warga Negara yang baik hendaknya kita menggunakan hak pilih tersebut. Terlebih lagi apabila kita dapat berpartisipasi menjadi seorang calon legistlatif yang bersih dan siap menciptakan kesejahteraan karena memang patut kita ingat “ kejahatan politik terjadi bukan karena kuantitas mereka yang terlampau banyak melainkan kita yang baik membiarkan kejahatan tersebut terjadi.

Ketiga faktor yang mengkonstruksi individu atau kelompok, maka tidak menutup kemungkinan banyak mereka yang golput. Apabila kita kembali kepada hakikat manusia yang tidak dapat hidup sendiri maka dari itu mereka melakukan interaksi yang sudah barang tentu disana terjadi interaksi dan adanya sebuah konformitas dalam hal ini konformitas sebagai pengaruh sosial yang membentuk seseorang menjadi golput. Dapat kita bayangkan dalam satu kampung yang memiliki tingkat interaksi yang intens dan individu atau kelompok terkonstruksi oleh ketiga faktor tersebut bisa jadi satu kampung memilih untuk tidak memilih, terlebih lagi jika rata – rata pendidikan masih rendah dan distrust telah mendarah daging, selain itu orang yang paham politik juga apriori terhadap keadaan tersebut maka golongan putih tersebut bisa jadi dapat meningkat.

Pemanfaatan Taman Kota sebagai Alternatif Mereduksi Golput

            Kota Bandung memiliki 600 taman baru sebanyak 30 taman yang direncanakan akan disulap menjadi taman tematik oleh pemkot Bandung. Dari 30 taman tersebut diantaranya adalah taman fotografi, taman Persib, taman lansia gaul, taman musik, taman lampion, taman dinosaurus, dan taman superhero. Selain itu bandung juga terkenal dengan tim sepakbola kesayanganganya yakni Persib Bandung yang sering kali menyedot perhatian warga Bandung untuk menyaksikan tim kebanggaan mereka sekitar 293.571 penonton pada musim 2011 – 2012 di laga ISL (Indonesia Liga) patut kita akui bahwa Indonesia adalah surganya bagi mereka penikmat bola.

Kondisi tersebut dapat kita manfaatkan dalam rangka mereduksi golongan putih karena memang berdasarkan survei yang dilakukan oleh Institut Riset Indonesia diprediksikan angka golput meningkat, dan merujuk golput pada pemilihan walikota Bandung tahun 2013 yang dimuat di Merdeka.com, hampir separuh warga Bandung tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Bandung 2013. Dari 1.658.808 Daftar Pemilih Tetap (DPT) ada 699.667 warga yang tidak menggunakan hak konstitusinya, maka dari itu sebagai alternatif lokal untuk Bandung kita dapat mengkolaborasikan taman kota, persib dan sosialisasi pemilu yang akan serentak dilaksanakan tanggal 9 April 2014.

Kolaborasi tersebut dijadikan satu wadah yakni mengadakan nonton bareng persib dan sosialisasi pemilu dengan catatan penyelenggaraan ini tidak diboncengi unsur – unsur aliran politik, maka dari itu panitia penyelenggaraan dan yang memberikan sosialisasi pemilu hendaknya dari pihak independen atau aktivis yang peduli terhadap angka golput yang semakin meningkat dan tak terikat oleh partai politik manapun. Dengan begitu kita dapat menyedot dengan mudah audien karena memang apabila kita melihat hegemoni warga terhadap tim kesayangan begitu tinggi.

Sosialisasi ini dapat dilakukan sebelum dimulainya permainan, saat istirahat dan dipenghujung acara sebagai sarana pendukung bisa saja kita mengundang tokoh yang berpengaruh di Bandung tetapi bukan elite politik.

Sumber :

Malihah, Elly dan Usman Kolip. 2013. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta : Kencana Prenadamedia Group.

Admin. 2013. Taman Kota Tematik Ala Bandung. [online]. Tersedia : www.Bandung Review.com.

Belladedeldillahanif.blogspot.com/2012/04/pengertian-generasi-muda.html?m=1#!/2012/04/pengertian-generasi-muda.html

Ombrill. 2013. 10 Program Televisi Paling Hits Sepanjang 2013. [online]. Tersedia : www.Kompasiana.com.

Nusantara, Putra. 2012. Penonton Liga Indonesia 3 Besar Asia, Ini Potensi!. [online]. Tersedia. www.Kompasiana.com.

Salam Wiyono, Andrian. 2013. Hampir Separuh Warga Golput di Pilwalkot Bandung. [online]. Tersedia :www.merdeka.com.

Salomon Siagian, H. 2014. Golput pada Pemilu 2014 Diprediksikan Meningkat. [Online]. Tersedia : www.Metronews.com.

www.yayasankorpribali.org/artikel-dan-berita/62-partisipasi-politik-pemuda-dalam-pilkada.html

Gambar : http://www.dnaberita.com/foto_berita/84Politik.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 


Leave a Reply