Sosiologi Komparatif : Remaja Jepang

  • 0

Sosiologi Komparatif : Remaja Jepang

Category : Tulisan

Harajuku Tempat Berkumpul Remaja Jepang

Harajuku (原宿?) adalah sebutan populer untuk kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo. Kawasan ini terkenal sebagai tempat anak-anak muda berkumpul. Lokasinya mencakup sekitar Kuil Meiji, Taman Yoyogi, pusat perbelanjaan Jalan Takeshita (Takeshita-dōri), department store Laforet, dan Gimnasium Nasional Yoyogi. Harajuku bukan sebutan resmi untuk nama tempat, dan tidak dicantumkan sewaktu menulis alamat.

Setelah dibukanya berbagai department store pada tahun 1970-an, Harajuku menjadi pusat busana. Kawasan ini menjadi terkenal di seluruh Jepang setelah diliput majalah fesyen seperti Anan dan non-no. Pada waktu itu, kelompok gadis-gadis yang disebut Annon-zoku sering dijumpai berjalan-jalan di kawasan Harajuku. Gaya busana mereka meniru busana yang dikenakan model majalah Anan dan non-no.

Di tempat ini biasanya para remaja Jepang mengekspresikan gaya berbusananya sesuai dengan selera mereka, maka dari itu ketika kita ke Harajuku jangan heran apabila melihat busana – busana yang bagi kita terlihat aneh namun bagi para remaja jepang itulah suatu cara yang asyik dan unik untuk berkumpul dan mengekspresikan diri mereka sebagai remaja Jepang.

Pendidikan Remaja Jepang

Pada dasarnya pendidikan di Jepang hampir sama saja seperti di Indonesia, dan kesamaan tersebut seperti wajib belajar masih 9 tahun. Namun di Jepang ini memiliki sebuah keunikan dimana ketika sudah lulus SMP remaja di Jepang harus mencari biaya sendiri untuk melanjutkan pendidikanya. Selain itu yang perlu kita tiru adalah kedisiplinan remaja jepang ketika di sekolah mereka masuk tepat waktu dan sangat hormat sekali pada guru, disamping itu biasanya para remaja jepang ini tidak terlalu ingin terlihat lebih unggul dibandingkan yang lain, karena ada pepatah jepang mengatakan paku yang mencuat akan dipukul palu untuk diratakan, mungkin hal ini juga menjadi prinsip bahwa ketika di kelas kita sama, tidak ada yang berbeda – beda dan tidak ada individu yang lebih unggul dibandingkan individu lain.

Sebagai tambahan informasi bahwa remaja jepang jika melanjutkan pendidikanya dari SMP cenderung ke kejuruan karena bagi mereka sebiah keahlian tertentu adalah bekal mereka untuk hidup karena faktor yang tadi ketika mereka ingin melanjutkan pendidikanya ke tingkat yang lebih tinggi mereka harus bisa membiayainya sendiri.

Hikikimori Pada Remaja Jepang

Hikikomori  arti harfiah: menarik diri, mengurung diri) adalah istilah Jepang untuk fenomena di kalangan remaja atau dewasa muda di Jepang yang menarik diri dan mengurung diri dari kehidupan sosial. Istilah hikikomori merujuk kepada fenomena sosial secara umum sekaligus sebutan untuk orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok sosial ini.

Menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, definisi hikikomori adalah orang yang menolak untuk keluar dari rumah, dan mengisolasi diri mereka dari masyarakat dengan terus menerus berada di dalam rumah untuk satu periode yang melebihi enam bulan. Menurut psikiater Tamaki Saitō, hikikomori adalah “Sebuah keadaan yang menjadi masalah pada usia 20-an akhir, berupa mengurung diri sendiri di dalam rumah sendiri dan tidak ikut serta di dalam masyarakat selama enam bulan atau lebih, tetapi perilaku tersebut tampaknya tidak berasal dari masalah psikologis lainnya sebagai sumber utama.” Pada penelitian lebih mutakhir, enam kriteria spesifik diperlukan untuk “mendiagnosis” hikikomori: (1) menghabiskan sebagian besar waktu dalam satu hari dan hampir setiap hari tanpa meninggalkan rumah, (2) secara jelas dan keras hati menghindar dari situasi sosial, (3) simtom-simtom yang mengganggu rutinitas normal orang tersebut, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau kegiatan sosial, atau hubungan antarpribadi, (4) merasa penarikan dirinya itu sebagai sintonik ego, (5) durasi sedikitnya enam bulan, dan (6) tidak ada ganguan mental lain yang menyebabkan putus sosial dan penghindaran. Meski tingkatan fenomena ini bervariasi, bergantung kepada individunya, sejumlah orang bertahan mengisolasi diri selama bertahun-tahun atau bahkan selama berpuluh-puluh tahun. Hikikomori sering bermula dari enggan sekolah (istilah Jepang futōkō atau istilah sebelumnya: tōkōkyohi.

Analisis Komparatif Kehidupan Remaja Jepang dan Indonesia

Perihal tempat berkumpul para remaja di Indonesia sendiri sebenarnya hampir setiap daerah memiliki. Namun apabila kit ambil sample misalkan di Bandung remaja yang ada di Bandung biasanya berkumpul di alun – alun atau di Gasibu biasanya mereka berkumpul tidak lebih kepada fesyen berbusana namun berdasarkan komunitas – komunitas tertentu misalkan komunitas sesama hobi, sesekali biasanya mereka juga mengadakan sebuah event fesyen seperti peragaan tokoh anime dengan pakaian cosplay. Sedangkan untuk perihal pendidikan mungkin untuk kedisiplinan remaja di Indonesia relatif ada yang memang disiplin adapula yang sering melanggar namun apabila dilihat dari segi ini kemungkinan intensitas disiplin kita lebih kecil dibandingkan Jepang, dan ketika proses pembelajaran siswa di Indonesia sering kali ingin unjuk kebolehan mungkin itu nilai lebih dari pelajar di Indonesia, dan untuk melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya untuk di Indonesia nampaknya tingkat ketergantungan kepada orang tua lebih tinggi di Bandingkan di Jepang yang harus membiayainya dengan jerih payah dan kerja keras sendiri. Ketiga perihal Hikikimori di Indonesia kemungkinan jumlahnya masih sedikit, namun setelah melihat Jepang saja yang cenderung dengan orang yang jarang menggunakan media sosialnya karena sifat mereka yang memang tertutup bisa terjadi peristiwa antisosial tersebut, apalagi di Indonesia masyarakat khususnya para remaja yang mudah saja menerima perkembangan dan pembaharuan teknologi yang ada dan kebiasaan yang sudah terikat menjadi “Cyber Community” ini perlu adanya perhatian karena ditakutkan peristiwa ini dapat berkembang di Indonesia.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Harajukuhttp://

id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_di_Jepang

Gambar : http://pkn.informasibandara.org/_lib/file/img/berita/injpn.jpg


Leave a Reply